Thursday, March 3, 2016

Tercederanya Hak-Hak Sipil Masyarakat Usia Sekolah dalam Wilayah Hukum Perkawinan

Pernikahan dibawah umur memang sudah banyak terjadi tidak hanya di kota-kota besar, bahkan sudah menyebar ke wilayah pedalaman. Penyebabnya bisa beragam, bisa karena masalah ekonomi, yaitu dengan alasan untuk meringankan beban orang tua maka anak wanitanya dikawinkan dengan orang yang dianggap mampu, selanjutnya juga bisa disebabkan karena pendidikan yang tergolong rendah, kurangnya pemahaman serta nilai dari budaya atau agama tertentu, dan ada pula yang melakukan hal tersebut karena kecelakaan atau married by accident. Setelah mengetahui beberapa penyebab, adapula dampak yang ditimbulkan dan bisa menjadi masalah sosial, pernikahan dini juga menjadi cacat hukum negara.

Dalam UU No.1 th 1974 tentang Perkawinan, pasal 1 menyebutkan perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dari beragam definisi pernikahan, semuanya memiliki persamaan yaitu untuk menghalalkannya hubungan antara laki-laki dengan perempuan.

Perkawinan memang masalah perdata, tapi jika negara tidak mengatur maka akan berpotensi lahirnya ketidakadilan bagi pihak-pihak tertentu. Perlu dipikirkan harmonisasi dan lahirnya legislasi yang dapat mengakomodasi semua sistem hukum yang hidup tanpa harus mencederai hak-hak sipil masyarakat dalam wilayah hukum perkawinan.

Merujuk pada hukum perkawinan seperti pada Undang Undang No. 1/1974 tentang Perkawinan mengizinkan anak perempuan di Indonesia untuk menikah pada usia 16 tahun. Sementara itu, anak laki-laki sudah diizinkan membina rumah tangga pada usia 19 tahun. Seperti yang sudah kita ketahui, usia tersebut adalah usia sekolah, dan dapat mengakibatkan tingginya angka putus sekolah, hak pendidikan yang terenggut, disamping itu anak perempuan juga beresiko mengandung terlalu dini yang dapat membahayakan kesehatan ibu dan bayinya.

Sejatinya, pernikahan bukan hanya sekedar matang secara fisik, tetapi juga harus matang secara intelektual dan spiritual. Jika pada anak usia sekolah sudah melakukan pernikahan, dapat dibayangkan betapa sedihnya mereka kehilangan masa kanak-kanaknya atau hak tumbuh kembang anak, dan tidak sedikit yang berimbas kepada tingginya kemiskinan.

Hak pendidikan sudah direnggut dan hak penghidupan yang layak juga hilang. Suami mencari nafkah sedangkan yang perempuan tidak siap bersaing di pasar kerja karena disebabkan minimnya keahlian atau kemampuan yang dimiliki. Jika sudah terganjar masalah ekonomi, tidak mengelakkan pula akan terjadi tindakan KDRT.

UU No. 23 th 2002 tentang Perlindungan Anak menjelaskan bahwa Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Dalam UU tersebut tidak disebutkan batasan usia minimum menikah, dan terkait pernikahan di bawah umur, pasal 26 (1) huruf (c ) menyebutkan bahwa Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk : (c ) mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, angka perkawinan usia dini (15-19 tahun) masih tinggi, yakni 46,7 persen. Di kelompok usia 10-14 tahun pun angka perkawinan mencapai 5 persen. Hal itu diperkuat Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Fasli Jalal, dari 4,5 juta bayi lahir dalam setahun di Indonesia, 2,3 juta berasal dari pasangan yang menikah dini.

Menikah memang merupakan jalan bagi orang untuk tetap menjaga kesucian dirinya dari hal yang berbau perzinahan. Namun harus dipikirkan secara matang, karena menikah bukan hal yang sepele, dan sebagai remaja wajib untuk lebih mengetahui tentang bagaimana baiknya pernikahan itu sendiri sehingga dapat tercapai tujuan perkawinannya, yaitu mendapatkan keturunan yang baik dan sehat.

Jakarta, 3 Maret 2016

Febri Fazriati

1 comment:

  1. Di Serawak Malaysia, anak dari buruh2 tki banyak yang melakukan pernikahan pada usia dini. Cukup memprihatinkan melihat mereka kehilangan masa kanak2nya. Menarik tulisannya mba.

    ReplyDelete