Monday, July 13, 2015

Duka yang Terendap


Hari ini, ditanggal 13 Juli. Saya menerima "Maaf, anda belum lulus seleksi masuk kali ini" di web pengumuman SIMAK UI.

Kalimat yang sama, seperti pada saat pengumuman seleksi SNMPTN dan PPKB. UI emang suka minta maaf, padahal lebaran masih 3 hari lagi. Saya masih dikasih kata 'belum' oleh-Nya untuk ke-4 kalinya. Dari SNMPTN, PPKB, SBMPTN, dan SIMAK UI. Saya mengakui bahwa saya gagal kali ini. Gagal mewujudkan salah satu impian saya. Gagal itu sakit. Sakit banget. Sedih kalo dirasa-rasa mah. Yang bisa saya lakukan hanya menerima kenyataan. Iya, menerima. Kenapa? karena ini kesempatan terakhir saya di tahun ini untuk di kampus kuning tersebut. Bukan berarti jacket syndrome. Ini hanya upaya saya untuk mewujudkan apa yang saya harapkan. Hidup itu keras. Mau ngga mau harus kuat.

Hidup bukan dongeng, yang kalo lo berusaha lo bakal lancar-lancar aja. Ada campur tangan Allah. Allah tau yang terbaik buat hambaNya. Saya sudah melakukan usaha semampu dan sebisa saya. Tetapi kenyataan berkata lain. Allah berkata lain. Allah masih ingin melihat saya berjuang. Sebisa mungkin, saya harus bangkit ketika jatuh berkali-kali. Saya sudah melangkah sejauh ini dan saya harus menyelesaikannya. Yang berjuang bukan hanya saya, orang tua saya pun berjuang. Mereka berjuang. 

Kecewa? Iya, kecewa sama diri sendiri. Kecewa karena sudah mengecewakan orang – orang yang sayang sama saya. Kecewa karena saya masih harus menunggu tanggal untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu kuliah. 

ya Allah, tunjukkan kuasa-Mu, karena hanya Engkau Yang Maha Besar dan Maha Agung. Rencana Allah pasti lebih indah dari kemauan saya. Saya percaya itu. Semuanya saya serahkan sama Allah dan itu yang membuat saya kuat. Ini hanya 'sedikit' ujian dalam hidup yang akan saya jalani. Kedepan mungkin lebih berat dan lebih banyak. 

Terimakasih kepada teman - teman yang tanpa disangka mereka begitu menyayangi saya. Walaupun mereka sudah jadi maba duluan, tapi mereka tetap rendah hati, mendukung saya dan mereka selalu bisa menghibur saya dengan cara mereka. Saya berterimakasih untuk hal apapun yg kalian lakukan. Saya bangga punya teman - teman seperti kalian.

Semoga ini kata maaf terakhir. Semoga saya dimudahkan dalam menjalani tes-tes selanjutnya. Banyak hal yang ingin saya ceritakan kepadaNya, banyak doa yang ingin saya utarakan. Bukan disini tapi tempatnya.  Mohon doa dari kalian supaya saya dan teman – teman seperjuangan bisa sukses semuda mungkin.

Tertanda, pejuang yang masih berjuang